KOTABARU, KLIKINDONESIA – Suasana pelantikan pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Persiapan Kotabaru–Tanah Bumbu periode 2025–2026 mendadak memanas saat sesi diskusi dan tanya jawab dibuka.
Para kader HMI yang hadir tak ingin hanya menjadi pendengar. Mereka melontarkan berbagai pertanyaan tajam dan kritik terbuka kepada Abu Suwandi terkait kondisi ekonomi daerah, peluang usaha anak muda, hingga kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada pengusaha lokal.
Sorotan tajam itu membuat forum terasa hidup. Beberapa kader bahkan secara lugas menyampaikan keresahan mengenai minimnya ruang bagi generasi muda untuk berkembang di sektor usaha dan ekonomi kreatif di Kabupaten Kotabaru.
Namun menariknya, Abu Suwandi justru tampak menikmati “serangan” kritik tersebut. Dengan santai namun serius, ia menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan mahasiswa, sembari sesekali mencatat poin-poin penting dari aspirasi yang disampaikan.
“Aspirasi dan kritik pedas dari adik-adik HMI ini adalah vitamin bagi saya. Ini akan saya bawa langsung ke gedung parlemen sebagai bekal dalam merumuskan kebijakan di DPRD nanti. Kami butuh masukan seobjektif ini,” tegasnya disambut tepuk tangan peserta, Sabtu (9/5/2026).
Kehadiran Abu Suwandi di forum tersebut dinilai menjadi warna tersendiri dalam pelantikan HMI kali ini. Jika sebelumnya Wakil Bupati Kotabaru Syairi Mukhlis mendorong mahasiswa menjadi mitra kritis pemerintah, maka Abu Suwandi melengkapinya dengan pesan penting tentang kemandirian ekonomi mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa harus memiliki kemampuan finansial dan jiwa kewirausahaan agar tidak mudah diintervensi oleh kepentingan tertentu.
“Mahasiswa harus kuat secara intelektual, tapi juga harus mandiri secara ekonomi. Kalau sudah mandiri, suara kritis akan lebih berani dan independen,” ujarnya.
Diskusi yang berlangsung dinamis itu menjadi salah satu momen paling menarik dalam rangkaian pelantikan HMI Cabang Kotabaru–Tanah Bumbu. Forum tersebut tidak hanya menjadi ajang seremonial, tetapi juga ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa, pemerintah, dan pelaku usaha.
Bagi kepengurusan baru di bawah kepemimpinan Teguh Jaka Saputra, momentum ini menjadi sinyal bahwa gerakan HMI ke depan tidak hanya fokus pada isu politik dan sosial, tetapi juga mulai serius menyentuh sektor pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari gerakan intelektual mahasiswa.








