KOTABARU, KLIKINDONESIA – Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Kotabaru terus berkomitmen meningkatkan profesionalisme wasit, juri, sekaligus kualitas atlet daerah.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui pelatihan Digital Scoring yang digelar pada 5–7 September 2025 di Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Desa Tegalrejo, Kecamatan Kelumpang Hilir.
Pelatihan ini diikuti puluhan wasit, juri, dan pelatih dari berbagai perguruan silat. Tujuan utama kegiatan tersebut adalah menciptakan penilaian yang lebih netral, transparan, dan akurat, sekaligus membantu pelatih dalam menganalisis performa atlet secara detail.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta pelatihan langsung mempraktikkan sistem digital scoring pada Kejuaraan Sirkuit PSHT Cabang Kotabaru. Dengan demikian, teori dan praktik dapat berjalan seimbang, sekaligus menguji kehandalan sistem tersebut di lapangan.
Ketua Umum IPSI Kotabaru, Tri Widodo, menyebut penggunaan teknologi digital scoring merupakan lompatan besar bagi dunia pencak silat di Kotabaru.
“Dengan sistem ini, penilaian menjadi lebih transparan, akurat, dan meminimalisasi kesalahan manusia. Ini adalah salah satu solusi untuk menjaga sportivitas dan keadilan dalam setiap pertandingan,” ujar pria yang akrab disapa Gus Wid.
Lebih jauh, sistem digital scoring juga memberikan keuntungan besar bagi atlet. Data pertandingan yang terekam dapat dianalisis kembali oleh pelatih. Dari sana, mereka bisa melihat poin yang hilang, kesalahan teknis, hingga aspek yang perlu ditingkatkan.
“Pelatihan ini tidak hanya fokus pada cara menggunakan alat, tetapi juga pemahaman etika dan profesionalisme wasit. IPSI Kotabaru berkomitmen terus berinovasi serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi demi masa depan pencak silat yang lebih baik,” tambah Gus Wid.
Senada, Ketua Harian IPSI Kotabaru sekaligus narasumber, Nur Abdul Rozaq, menegaskan bahwa sistem digital scoring membuat jalannya pertandingan lebih transparan.
“Sistem ini menampilkan skor secara real-time di layar besar, sehingga atlet, pelatih, maupun penonton bisa menyaksikan langsung proses penilaian. Bagi pelatih, data dalam sistem dapat dijadikan acuan menyusun strategi program latihan yang lebih efektif dan terarah, sehingga atlet bisa tampil lebih baik,” jelas Rozaq.
Menurutnya, selama tiga hari kegiatan berlangsung, penerapan sistem ini berjalan lancar tanpa kendala berarti. Bahkan, IPSI Kotabaru siap apabila sistem tersebut diimplementasikan pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XII Kalimantan Selatan di Tanah Laut mendatang.
“Alhamdulillah penerapan digital scoring berjalan lancar. Kami siap jika nanti diperlukan untuk tampil di Porprov XII Kalsel,” tutup Rozaq optimis.
Dengan adanya pelatihan digital scoring, IPSI Kotabaru menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pertandingan pencak silat yang lebih profesional, berintegritas, dan berorientasi pada prestasi atlet.
Kehadiran teknologi ini diharapkan dapat membawa pencak silat Kotabaru semakin maju dan bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.








